Kolaka Utara dan Kecewa yang Tersembunyi

Author: Yusril Amrani

Malam di Kolaka Utara tidak selalu tentang keramaian.

‎Kadang ia cuma tentang beberapa lelaki yang duduk melingkar, menertawakan hal kecil agar lupa kalau hidup sedang tidak baik-baik saja.

‎Tentang seorang perempuan yang datang membawa nyaman, lalu pergi meninggalkan kepala yang terlalu berisik.

‎Tentang harapan yang perlahan habis di tengah asap rokok dan dinginnya malam.

‎Sebotol Atlas (merek minuman beralkohol) kembali dibuka.

‎Bukan karena ingin mabuk, tapi karena ada hal-hal yang terlalu sulit diceritakan saat sadar sepenuhnya.

‎Teman-teman tertawa keras malam itu, saling mengejek, saling bercerita.

‎Namun diam-diam, masing-masing sedang kalah dengan pikirannya sendiri.

‎Dan kami sadar…
‎ternyata menjadi laki-laki bukan soal siapa yang paling kuat menahan sakit,
‎tapi siapa yang masih bisa bertahan walau berkali-kali ingin menyerah.

‎Di kota kecil ini, kami tumbuh dengan cara yang keras.

‎Menyembunyikan kecewa di balik candaan,
‎dan menyimpan luka di balik kata “saya aman”.

‎Malam terus berjalan.
‎Musik tetap diputar.
‎Atlas tinggal setengah botol.
‎Dan tentang dia... masih belum benar-benar selesai.


Lebih baru Lebih lama