Ada satu hal yang baru benar-benar kupahami setelah aku tumbuh dewasa: waktu tidak hanya mengubah anak-anak menjadi orang dewasa, tetapi juga mengubah seorang ibu menjadi seseorang yang diam-diam belajar hidup dengan kesepian.
Sekitar sepuluh hingga lima belas tahun yang lalu, rumah kami adalah dunia kecil yang riuh dan penuh kehidupan.
Saat itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Adikku baru saja menyelesaikan taman kanak-kanak, sedangkan kakakku telah memasuki sekolah menengah pertama. Kami bertiga tumbuh di rumah yang sederhana, tak jauh dari kebun warga, sungai, dan halaman luas yang menjadi semesta petualangan kami.
Di kebun belakang rumah, kami membuat arena balap sepeda dari tanah yang kami ratakan sendiri. Kami memancing ikan di sungai dan laut, berenang hingga sore, dan pulang dengan pakaian yang basah serta tawa yang tak pernah habis. Namun di antara semua permainan masa kecil itu, ada satu kesenangan yang paling kami cintai: memelihara binatang.
Adikku sangat menyukai burung, terutama jenis tekukur. Ia merawatnya dengan ketelatenan yang jarang dimiliki anak seusianya.
Kakakku berbeda. Ia memelihara ayam dan memperlakukannya seperti sahabat. Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana ia menangis ketika ayam kesayangannya disembelih untuk dikonsumsi saat hari raya. Barangkali hingga hari ini, kenangan itu masih tersimpan di sudut hatinya yang paling sunyi.
Suatu waktu, adikku juga memelihara seekor kelinci yang dibelinya dari pedagang di pinggir jalan. Kelinci itu begitu lucu dan perlahan menjadi bagian dari keseharian kami. Namun seperti banyak hal indah dalam hidup, kebersamaan itu tidak berlangsung lama. Kelinci itu mati, meninggalkan kesedihan kecil yang saat itu terasa begitu besar.
Aku sendiri selalu memiliki kelemahan pada kucing. Sebagian besar kucing yang kupelihara adalah kucing-kucing jalanan yang datang dengan tubuh kurus dan tatapan penuh harap. Aku membawa mereka pulang seolah-olah rumah kami adalah tempat perlindungan terakhir mereka.
Tetapi ibu tidak selalu menyambut mereka dengan gembira.
Kucing-kucing itu sering membuat masalah. Mereka buang kotoran sembarangan, bahkan kadang di atas tempat tidur. Bau yang ditinggalkan membuat ibu marah.
Berkali-kali ia menyuruhku membuang kucing-kucing itu, dan sering kali aku menurut. Namun, seperti air sungai yang tak pernah berhenti mengalir, selalu ada kucing baru yang datang. Dan seperti matahari yang setia terbit, ibu kembali memarahiku.
Pada masa itu aku mengira ibu benar-benar tidak menyukai kucing.
Namun waktu ternyata menyimpan caranya sendiri untuk mengoreksi kesalahpahaman.
Setelah aku pulang dari perantauan karena studi telah usai, aku melihat sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
Ibu kini memelihara beberapa ekor kucing. Ia memberi mereka makan dengan penuh perhatian, membersihkan kotorannya tanpa keluhan, dan memanggil mereka dengan nada lembut sebagaimana ia dahulu memanggil kami ketika masih kecil.
Aku sempat heran. Bagaimana mungkin perempuan yang dulu paling sering menyuruhku membuang kucing, kini justru merawat mereka dengan kasih sayang?
Lalu perlahan aku memahami jawabannya.
Rumah kami sudah tidak seramai dulu. Arena balap sepeda di kebun tinggal kenangan. Sungai tak lagi dipenuhi suara anak-anak yang berenang dan tertawa. Meja makan tidak lagi dikelilingi tiga anak yang berebut lauk. Anak-anak yang dahulu memenuhi rumah dengan kegaduhan kini telah tumbuh dewasa dan sibuk dengan jalan hidup masing-masing.
Dan ibu, seperti banyak ibu lainnya, belajar menerima bahwa anak-anak tidak selamanya tinggal di pangkuannya.
Barangkali ibu menyukai kucing bukan karena mereka berhenti buang kotoran sembarangan. Bukan pula karena tingkah mereka menjadi lebih baik. Ibu menyukai mereka karena di mata seekor kucing, ia masih dibutuhkan. Masih ada makhluk kecil yang menunggunya di rumah, yang berlari mendekat ketika ia datang, yang setia menemaninya dalam kesunyian.
Kucing-kucing itu, dengan segala kenakalan dan kelembutannya, telah mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh anak-anaknya.
Kini aku mengerti bahwa kasih sayang seorang ibu tidak pernah benar-benar kehilangan tempat untuk berlabuh. Ketika anak-anaknya tumbuh dan jarang pulang, cinta itu mencari rumah baru. Dan kadang-kadang, rumah itu hadir dalam tubuh seekor kucing yang mengeong pelan di teras.
Sejak saat itu, setiap kali melihat ibu mengelus bulu-bulu kucingnya, aku tidak lagi melihat sekadar seorang perempuan yang memelihara hewan. Aku melihat seorang ibu yang sedang merawat rindunya sendiri.
Dan aku sadar, ada kerinduan yang tidak pernah diucapkan dengan kata-kata. Ia hanya hadir dalam semangkuk makanan, dalam tangan yang membersihkan kotoran, dan dalam belaian lembut kepada makhluk-makhluk kecil yang setia menunggu di rumah.
Author: Akbar Pelayati
