Tragedi yang terjadi di kawasan wisata Apparalang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, meninggalkan duka sekaligus pertanyaan besar bagi publik. Seorang remaja putri berusia 17 tahun bernama Elmi dilaporkan meninggal dunia setelah tenggelam di perairan sekitar lokasi wisata tersebut.
Sebelum dinyatakan hilang dan kemudian ditemukan meninggal dunia, beredar sebuah video berdurasi 3 menit 55 detik yang memperlihatkan Elmi terombang-ambing di tengah laut. Dalam rekaman itu, korban tampak berusaha bertahan hidup. Tangannya terangkat beberapa kali, seolah memohon pertolongan di tengah situasi yang semakin mengancam keselamatannya.
Video tersebut memunculkan kegelisahan dan pertanyaan yang sulit diabaikan: ke mana perginya rasa kemanusiaan saat seseorang sedang berjuang antara hidup dan mati?
Dalam rekaman yang beredar, tidak terlihat adanya upaya penyelamatan yang cepat dan efektif. Tidak tampak pelampung yang segera diberikan kepada korban. Tidak terlihat pula tindakan darurat yang menunjukkan respons sigap untuk menyelamatkan nyawa yang sedang terancam. Yang justru terlihat adalah kamera yang terus merekam, sementara seorang anak manusia berjuang sendirian melawan maut.
Tentu saja, tidak seorang pun dapat menyimpulkan seluruh rangkaian peristiwa hanya dari sebuah video. Ada kemungkinan terdapat kondisi-kondisi tertentu yang tidak terekam. Bisa jadi ada keterbatasan kemampuan berenang, faktor keselamatan, atau situasi lain yang tidak diketahui publik. Namun satu hal yang tidak dapat dipungkiri, rekaman tersebut menghadirkan potret yang menyentak kesadaran kita tentang menurunnya sensitivitas sosial di tengah masyarakat.
Fenomena ini bukan hanya terjadi dalam peristiwa di Apparalang. Dalam berbagai kejadian darurat, kecelakaan, kebakaran, hingga bencana, sering kali telepon genggam lebih dahulu diangkat untuk merekam daripada digunakan untuk menghubungi bantuan. Seolah-olah dokumentasi menjadi kebutuhan utama, sementara keselamatan manusia ditempatkan di urutan berikutnya.
Media sosial telah mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia. Sayangnya, dalam beberapa keadaan, ia juga melahirkan budaya yang menjadikan peristiwa tragis sebagai tontonan. Penderitaan seseorang direkam, disebarkan, dan dikomentari, sementara empati yang seharusnya menjadi naluri pertama justru perlahan memudar.
Peristiwa yang menimpa Elmi harus menjadi bahan introspeksi bersama. Bukan untuk menghakimi individu tertentu, melainkan untuk mengingatkan bahwa nilai kemanusiaan tidak boleh kalah oleh keinginan mendokumentasikan sebuah kejadian. Dalam situasi darurat, prioritas pertama harus selalu keselamatan nyawa manusia.
Sebab pada akhirnya, tidak ada video yang lebih berharga daripada satu nyawa yang berhasil diselamatkan. Tidak ada konten yang lebih penting daripada tindakan nyata untuk membantu sesama. Dan tidak ada alasan apa pun yang dapat menggantikan hilangnya kesempatan untuk menolong ketika pertolongan itu masih mungkin diberikan.
Tragedi Elmi bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga yang ditinggalkan. Peristiwa ini juga menjadi cermin bagi kita semua: apakah teknologi telah membuat kita semakin peduli, atau justru semakin terbiasa menjadi penonton atas penderitaan orang lain?
Pertanyaan itu layak direnungkan. Sebab kemajuan teknologi seharusnya tidak mengurangi kemanusiaan kita, melainkan memperkuatnya.
Penulis : Nurul Ehsan
Merupakan Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
