Kolaka Utara dan Upaya Menemukan Kembali Nalar

Oleh: Akbar Pelayati, S.Ag (Relawan Literasi TRH)
TENGGARA READING HOUSE — Sekitar empat tahun lalu, saat saya menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, saya merasakan bagaimana atmosfer akademik benar-benar hidup. Buku tidak sekadar dibaca, tetapi diperebutkan. Ia menjadi simbol kesadaran intelektual yang tumbuh di ruang-ruang diskusi, perpustakaan, hingga percakapan sehari-hari mahasiswa.

Namun, ketika saya kembali melihat kondisi di daerah sendiri Kolaka Utara realitasnya justru kontras. Buku tidak menjadi kebutuhan, apalagi rebutan. Ia hadir, tetapi tidak hidup dalam keseharian pemuda dan mahasiswa. Di titik ini, pertanyaan mendasar pun muncul: mengapa jarak intelektual ini begitu lebar?

Dalam perspektif Antonio Gramsci, kondisi ini dapat dibaca sebagai krisis “hegemoni kultural”, yakni ketika kesadaran masyarakat tidak lagi ditopang oleh tradisi intelektual yang kuat. Gramsci menekankan bahwa setiap masyarakat membutuhkan intelektual organik mereka yang tidak hanya berpikir, tetapi juga menggerakkan kesadaran kolektif. Ketika ruang-ruang intelektual melemah, maka yang terjadi adalah kekosongan nalar publik.

Realitas tersebut tampaknya pernah dialami Kolaka Utara. Sejarah mencatat bahwa daerah ini tidak sepenuhnya asing dengan kehidupan akademik. Kampus-kampus pernah berdiri, diskursus berkembang, dan aktivisme mahasiswa sempat tumbuh. Namun, seiring waktu, semuanya meredup. Kekosongan kampus dalam rentang yang cukup lama hingga kembali hadir pada 2022 telah memutus mata rantai budaya literasi dan intelektualisme.

Kondisi ini sejalan dengan kegelisahan Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed, yang menyebut bahwa pendidikan yang tidak membebaskan akan melahirkan masyarakat yang pasif dan jauh dari tradisi berpikir kritis. Dalam konteks Kolaka Utara, hilangnya ruang pendidikan formal dalam waktu lama secara tidak langsung turut melemahkan daya kritis masyarakatnya.

Namun demikian, menyalahkan keadaan bukanlah jalan keluar. Sebagaimana dikatakan oleh Nurcholish Madjid, “kemunduran umat seringkali bukan karena ketiadaan potensi, tetapi karena kegagalan mengelola potensi tersebut.” Artinya, harapan selalu ada selama masih ada kesadaran untuk memulai.

Di tengah keterbatasan itu, muncul secercah harapan melalui komunitas Tenggara Reading House. Kehadirannya bukan sekadar ruang baca, melainkan gerakan sosial yang mencoba menghidupkan kembali budaya literasi. Melalui program seperti “Gerobak Baca”, mereka menghadirkan buku langsung ke tengah masyarakat sebuah pendekatan yang sederhana, tetapi memiliki dampak yang tidak sederhana.

Apa yang dilakukan komunitas ini mengingatkan pada gagasan Jürgen Habermas tentang ruang publik (public sphere), yakni ruang di mana masyarakat dapat berdiskusi secara rasional dan kritis. Dalam konteks Kolaka Utara, gerobak baca bukan hanya alat distribusi buku, tetapi embrio dari ruang publik alternatif tempat di mana kesadaran intelektual bisa tumbuh kembali dari bawah.

Buku-buku yang mereka hadirkan pun berasal dari partisipasi kolektif: sumbangan masyarakat, senior, hingga relasi komunitas. Ragamnya luas dari filsafat hingga bacaan anak-anak menandakan bahwa literasi bukan milik segelintir orang, tetapi hak semua kalangan.

Dalam kerangka yang lebih luas, upaya ini juga dapat dibaca melalui pandangan Pierre Bourdieu tentang modal kultural. Bourdieu menegaskan bahwa akses terhadap pengetahuan dan budaya membaca merupakan bentuk modal yang sangat menentukan posisi seseorang dalam struktur sosial. Dengan demikian, gerakan literasi seperti ini sesungguhnya sedang mendistribusikan modal kultural secara lebih merata di masyarakat.

Membangun kembali budaya literasi bukanlah pekerjaan instan. Ia membutuhkan waktu panjang, konsistensi, dan keterlibatan banyak pihak. Namun, setiap langkah kecil seperti membuka lapak baca, meminjamkan buku, atau menghidupkan diskusi merupakan fondasi penting bagi kebangkitan intelektual.

Kolaka Utara mungkin pernah kehilangan ruang intelektualnya, tetapi bukan berarti ia tidak bisa menemukannya kembali. Seperti yang diingatkan oleh Pramoedya Ananta Toer, “orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah.” Dalam konteks hari ini, pesan itu bisa diperluas: tanpa membaca dan berpikir, sebuah masyarakat akan kehilangan arah sejarahnya sendiri.

Dan mungkin, dari gerobak sederhana yang dipenuhi buku-buku itulah, masa depan intelektual Kolaka Utara sedang perlahan ditulis kembali.
Lebih baru Lebih lama