Berbicara tentang relawan, jujur saja, dulu saya juga punya bayangan yang sama seperti kebanyakan orang. Relawan itu ya mereka yang pakai rompi, turun ke lokasi bencana, mengajar di pelosok, atau terlibat dalam kegiatan sosial yang terorganisir. Intinya, relawan itu identik dengan sesuatu yang besar, terlihat, dan diakui.
Tapi belakangan, saya mulai berpikir ulang.
Apakah relawan harus selalu seperti itu? Apakah keikhlasan harus selalu lahir dari kesadaran yang penuh dan terencana?
Pertanyaan itu muncul dari hal-hal sederhana yang saya lihat sendiri.
Di Samata, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, saya pernah melihat seorang bapak yang setiap hari berdiri di perempatan bundaran, mengatur lalu lintas. Tidak ada seragam resmi, tidak ada tanda pengenal, apalagi gaji. Tapi ia tetap di sana, membantu mengurai kemacetan, memberi jalan kepada pengendara, seolah itu memang tugasnya.
Tidak ada yang menyuruhnya. Tapi ia tetap datang.
Lalu, pengalaman yang lebih membekas saya temukan di Kolaka Utara.
Ada seorang laki-laki bernama Ubba. Masyarakat mengenalnya sebagai orang yang mengalami gangguan jiwa. Ia sering dianggap “tidak waras”. Tapi justru dari dirinya, saya menemukan sesuatu yang tidak saya duga sebelumnya.
Ubba punya kebiasaan unik. Ia memakai pakaian seperti aparat dulu Satpol PP, sekarang lebih sering terlihat menggunakan baju polisi lalu lintas. Saya juga tidak tahu dari mana ia mendapatkan pakaian itu. Tapi yang membuat saya berpikir bukan soal pakaiannya.
Melainkan cara ia menjalani itu semua.
Ia tidak sekadar memakai seragam. Ia benar-benar menjalankan peran itu. Ia berdiri di jalan, mengatur kendaraan, memberi aba-aba kepada pengendara, bahkan kadang terlihat sangat serius, seolah ia adalah polisi sungguhan.
Awalnya, jujur saja, saya juga melihatnya seperti orang lain melihat aneh, lucu, bahkan mungkin sedikit menggelikan.
Tapi lama-lama, saya mulai merasa ada yang tidak beres dengan cara saya memandangnya.
Di balik apa yang disebut orang sebagai “kegilaan”, saya justru melihat sesuatu yang sangat jernih: keikhlasan.
Ubba tidak pernah bicara soal gaji. Ia tidak menuntut penghargaan. Bahkan saya ragu ia peduli dengan bagaimana orang lain menilainya. Tapi ia tetap melakukan itu semua hadir di jalan, membantu, memberi manfaat dengan caranya sendiri.
Di titik itu, saya mulai merasa tertampar.
Selama ini, kita yang merasa waras justru sering kali terlalu banyak pertimbangan. Kita membantu kalau ada waktu, kalau ada manfaat, kalau ada pengakuan, atau setidaknya kalau ada alasan yang bisa kita terima secara logis.
Bahkan dalam aktivitas yang kita sebut “sukarela”, kadang masih ada sesuatu yang kita harapkan entah itu pengalaman, relasi, atau sekadar dilihat sebagai orang baik.
Ubba tidak seperti itu.
Ia melakukan semuanya tanpa beban, tanpa kalkulasi, tanpa pamrih.
Dan ironisnya, kita justru lebih sering menertawakannya daripada belajar darinya.
Saya kemudian sadar, mungkin selama ini saya terlalu sibuk melihat label. Saya melihat siapa dia, bukan apa yang ia lakukan. Saya melihat kekurangannya, bukan makna dari tindakannya.
Padahal, kalau dipikir-pikir, apa yang dilakukan Ubba adalah inti dari relawan itu sendiri: memberi tanpa menuntut kembali.
Sejak saat itu, cara saya memandang relawan berubah.
Relawan bukan lagi sekadar identitas atau aktivitas yang besar dan terorganisir. Relawan adalah sikap batin tentang kesediaan untuk hadir dan memberi, bahkan ketika tidak ada yang melihat, tidak ada yang menyuruh, dan tidak ada yang membayar.
Dan anehnya, pelajaran itu justru saya dapatkan dari seseorang yang selama ini dianggap “tidak waras”.
Kadang saya berpikir, jangan-jangan yang perlu kita pertanyakan bukan Ubba, tapi diri kita sendiri.
Karena bisa jadi, di balik apa yang kita sebut sebagai kewarasan, kita justru kehilangan sesuatu yang paling sederhana: ketulusan untuk berbuat.
Dan di balik “kegilaan” Ubba, saya justru menemukan bentuk kewarasan yang lain yang lebih jujur, lebih polos, dan mungkin… lebih manusiawi.
Penulis: Akbar Pelayati, S.Ag (Relawan Literasi TRH)
