Tidak semua kehilangan datang secara tiba-tiba. Ada yang berlangsung perlahan, nyaris tak terasa, hingga pada akhirnya manusia sadar bahwa sesuatu yang dulu begitu akrab kini telah berubah jauh dari bentuk yang mereka kenal.
Begitulah barangkali keadaan yang hari ini dirasakan sebagian masyarakat di Desa Sulaho, Kabupaten Kolaka Utara.
Dulu, Sulaho dikenal sebagai desa yang tenang dengan bentang alam yang masih terjaga. Gunung-gunung hijau berdiri mengelilingi kampung, udara pagi terasa sejuk, dan sungai yang mengalir jernih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Alam bukan hanya latar kehidupan, tetapi juga sumber harapan dan tempat masyarakat bertumbuh sejak lama.
Namun waktu perlahan membawa perubahan.
Suasana yang dahulu dipenuhi suara alam kini mulai bercampur dengan kebisingan kendaraan berat. Jalan-jalan desa yang dulu bersih kini lebih sering diselimuti debu. Bukit-bukit hijau perlahan terbuka dan berubah menjadi hamparan tanah merah. Semua perubahan itu datang sedikit demi sedikit, hingga akhirnya mulai terasa nyata dalam kehidupan masyarakat.
Sebagian warga mulai merasakan bahwa yang perlahan hilang bukan hanya keindahan alam, tetapi juga ketenangan yang selama ini menjadi ciri kampung mereka. Kekhawatiran terhadap masa depan lingkungan mulai muncul, terutama ketika perubahan terus terjadi tanpa kepastian tentang bagaimana alam akan dipulihkan kembali.
Aktivitas pertambangan yang terus berkembang di wilayah tersebut menjadi salah satu hal yang paling sering dibicarakan masyarakat. Gunung-gunung yang dahulu menjadi kebanggaan kini perlahan kehilangan bentuk alaminya akibat eksploitasi yang terus berlangsung atas nama pembangunan dan investasi. Debu jalanan, perubahan kondisi lingkungan, hingga kekhawatiran terhadap keberlangsungan sumber daya alam mulai menjadi bagian dari realitas yang dihadapi warga setiap hari.
Keadaan itu seolah memiliki kesamaan dengan novel *Cantik Itu Luka* karya Eka Kurniawan. Dalam novel tersebut, sesuatu yang terlihat indah justru menyimpan penderitaan di baliknya. Begitu pula dengan Sulaho hari ini. Alam yang dulu menjadi kebanggaan masyarakat perlahan berubah menjadi ruang yang dipenuhi kegelisahan.
Di sisi lain, masyarakat juga berada dalam situasi yang rumit. Sebagian warga menggantungkan penghidupan pada sektor tambang, sementara sebagian lainnya mulai khawatir terhadap dampak lingkungan yang semakin terlihat. Karena itu, suara kritik sering muncul secara perlahan dan penuh pertimbangan.
Padahal, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya kondisi lingkungan saat ini, tetapi juga masa depan ruang hidup masyarakat sendiri. Ketika hutan mulai hilang, sungai tidak lagi sejernih dahulu, dan udara kehilangan kesejukannya, maka yang rusak bukan sekadar alam, tetapi juga kehidupan generasi yang akan datang.
Pembangunan memang dibutuhkan demi kemajuan daerah. Namun pembangunan yang tidak dibarengi kepedulian terhadap lingkungan berisiko meninggalkan kerusakan jangka panjang. Alam yang rusak membutuhkan waktu yang sangat lama untuk pulih, bahkan ada yang pada akhirnya tidak pernah kembali seperti semula.
Hari ini, suara alat berat mulai lebih dominan dibanding suara alam di Desa Sulaho.
Bukit-bukit perlahan terkikis, suasana kampung berubah, dan alam yang dulu begitu indah kini seperti menyimpan luka yang semakin besar dari waktu ke waktu.
“Cantik Itu Luka” akhirnya bukan hanya menjadi judul sebuah novel, tetapi juga gambaran tentang bagaimana sesuatu yang dahulu indah perlahan berubah menjadi kenyataan yang menyisakan kegelisahan di tengah masyarakat sendiri.
Kolaka Utara yang dulu saya kenal dengan gunung yang hijau dan laut yang indah, kini perlahan terasa tinggal sebagai kenangan. Keindahan itu masih hidup dalam ingatan, tetapi wajah alamnya tidak lagi benar-benar sama seperti yang pernah saya lihat dahulu.
Muh Kahlil Gibran Ismail
Sang Pujangga dari Kolaka Utara
