Gelisah di Antara Mimpi, Kota dan Kampung Halaman

Di penghujung tenggara Indonesia, banyak anak muda tumbuh dengan kegelisahan yang hampir sama: memilih pergi meninggalkan kampung halaman demi mengejar masa depan, atau tetap bertahan untuk menjaga tanah tempat mereka dilahirkan.
Di tengah derasnya pengaruh media sosial, kehidupan kota yang tampak mewah, dan ukuran kesuksesan yang sering diukur dari jabatan maupun seragam, tidak sedikit pemuda daerah yang mulai bingung menentukan arah hidupnya sendiri.

‎Layar gadget setiap hari menampilkan suasana kota yang indah. Gedung-gedung tinggi, jalanan yang ramai, kehidupan modern, hingga cerita orang-orang yang dianggap berhasil setelah menempuh pendidikan di luar daerah.
Semua itu perlahan menghadirkan pertanyaan di dalam pikiran banyak anak muda di daerah: apakah seseorang baru dianggap sukses ketika meninggalkan kampung halamannya? Apakah kesuksesan hanya milik mereka yang bekerja di pemerintahan, memakai seragam, atau hidup di kota besar?
‎Kegelisahan itu juga pernah dirasakan seorang pemuda di Sulawesi Tenggara setelah menyelesaikan pendidikan di bangku SMK. Di usia yang seharusnya penuh semangat mengejar cita-cita, ia justru dipenuhi banyak tekanan dan pertanyaan tentang masa depan. Di satu sisi, ada harapan untuk membanggakan orang tua yang usianya semakin bertambah. Di sisi lain, ada tuntutan untuk berhasil seperti orang-orang di sekitarnya.
‎Keinginan untuk menjadi bagian dari institusi negara sempat membawanya mencoba mendaftar sebagai anggota Polri. Baginya, seragam pernah terlihat seperti jalan menuju kesuksesan dan kebanggaan keluarga.
Namun perjalanan itu tidak berjalan sesuai harapan. Kegagalan di tengah proses membuat dirinya mulai kehilangan arah. Faktor ekonomi dan keadaan keluarga perlahan memaksanya mengubur mimpi tersebut.
‎“Pada masa itu saya merasa pikiran saya penuh. Terlalu banyak tuntutan dan terlalu banyak suara di sekitar yang membuat saya hampir kehilangan diri sendiri,” ungkapnya.
‎Di tengah kebingungan itu, keinginan untuk merantau ke luar kota terus menghantui pikirannya. Ia sempat percaya bahwa masa depan hanya bisa ditemukan jauh dari kampung halaman. Namun semakin lama ia berpikir, semakin ia menyadari bahwa tanah tempat ia lahir memiliki arti yang lebih besar dari sekadar tempat tinggal.
‎Baginya, kampung di penghujung tenggara itu bukan daerah yang tertinggal, melainkan rumah yang memiliki keindahan dan layak dijaga. Laut, pegunungan, dan kehidupan masyarakat di dalamnya membuat dirinya berpikir bahwa suatu hari nanti daerah itu membutuhkan anak muda yang tetap tinggal untuk merawat dan menjaganya dari kerusakan.
‎Keputusan untuk bertahan akhirnya benar-benar ia ambil ketika sebuah kampus mulai dibuka di daerahnya. Kesempatan itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia memilih melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan kampung halaman.
‎Di tempat itulah ia mulai menanamkan keyakinan bahwa kesuksesan tidak selalu harus lahir dari kota besar. Bahwa seorang anak muda dari daerah juga bisa tumbuh, belajar, dan memberi arti bagi tanahnya sendiri.
‎“Saya ingin membuktikan bahwa akan selalu ada pemuda yang tetap bertahan untuk menjaga tenggara ini,” tuturnya.
‎Catatan ini bukan hanya tentang satu orang, tetapi tentang banyak anak muda di daerah yang sedang berjuang melawan kebingungan, tekanan, dan ketakutan akan masa depan. Sebab terkadang, keberanian terbesar bukan tentang pergi sejauh mungkin, melainkan memilih tetap tinggal dan membangun tempat yang selama ini sering dianggap kecil oleh banyak orang.
‎Author: Muh Kahlil Gibran 
‎Sang Pujangga dari Kolaka Utara 
Lebih baru Lebih lama