Istana Tidak Dibangun dengan Rindu Saja

Di sebuah musim yang diam-diam menua, aku pernah mencintai seseorang seperti rakyat mencintai kerajaannya dengan setia, meski sering tidak dipeluk oleh kepastian.

Ia datang bukan membawa mahkota,
melainkan ketenangan.
Sementara aku datang dengan tangan penuh mimpi, namun pundak dipenuhi peperangan hidup yang tak pernah benar-benar selesai.

Aku mengerti, kasih sayang dan pekerjaan bukan dua pasukan yang harus saling menaklukkan.

Sebab cinta tidak akan tumbuh baik di istana yang dapurnya kosong, dan pekerjaan setinggi apa pun akan terasa sunyi bila tak ada hati yang menunggu kepulangan.

Namun banyak manusia keliru;
mereka memaksa cinta bertarung dengan ambisi,
lalu bingung mengapa keduanya sama-sama terluka.

Padahal kebahagiaan bukan tentang memilih salah satu untuk dimenangkan, melainkan tentang bagaimana keduanya duduk semeja tanpa saling merendahkan.

Sebab lelaki yang hanya mengejar tahta akan pulang sebagai raja yang kesepian. Dan mereka yang tenggelam dalam asmara tanpa membangun kehidupan,
akan mencintai dalam lapar dan kegelisahan.

Maka aku belajar:
hubungan bukan sekadar siapa paling besar cintanya, tetapi siapa yang mampu menjaga kasih tetap hidup di tengah kerasnya dunia.

Karena dalam kerajaan bernama kehidupan,
cinta adalah singgasana,
dan pekerjaan adalah pondasi istana. Salah satunya runtuh, maka yang lain tak akan lama bertahan.

Author: Muh Arief 

(Relawan Literasi TRH)
Lebih baru Lebih lama