Pendidikan sering kali dipahami sebagai ruang yang dipenuhi angka-angka: nilai, akreditasi, sertifikat, gelar, pangkat, dan jenjang karier. Sejak kecil kita diajarkan mengeja huruf, menghitung bilangan, menghafal rumus, memahami teori, hingga akhirnya menggenggam selembar ijazah yang dianggap sebagai tanda keberhasilan.
Kita melewati sekolah dasar, sekolah menengah, perguruan tinggi, bahkan sebagian melanjutkan hingga jenjang magister dan doktor. Kita menghabiskan puluhan tahun duduk di ruang-ruang kelas, mendengar penjelasan para guru dan dosen yang membimbing perjalanan intelektual kita.
Namun, di tengah perjalanan panjang itu, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya kepada diri sendiri: untuk apa semua pendidikan itu?
Apakah pendidikan hanya sebuah tangga menuju pekerjaan? Ataukah ia sesungguhnya adalah jalan panjang untuk menjadi manusia yang mampu menghadirkan manfaat bagi manusia lainnya?
Pertanyaan itu terus berputar di kepala saya sejak mengikuti sebuah kegiatan relawan pendidikan di sekolah-sekolah pelosok. Sebuah perjalanan yang hanya berlangsung tiga hari dua malam, tetapi meninggalkan pelajaran yang mungkin tidak akan selesai dipahami seumur hidup. Tiga hari yang terasa singkat dalam hitungan kalender, tetapi begitu panjang dalam perjalanan batin. Tiga hari yang, bagi saya, akan hidup untuk selamanya.
Selama ini kita sering menganggap bahwa seorang guru adalah profesi. Padahal, jauh sebelum menjadi profesi, guru adalah panggilan nurani. Profesi dapat diukur oleh jam kerja, besaran honorarium, hingga kenaikan pangkat. Akan tetapi, panggilan tidak pernah mengenal hitungan waktu maupun besaran upah. Ia lahir dari kesadaran bahwa ilmu yang kita miliki tidak akan pernah bermakna jika berhenti hanya untuk diri sendiri.
Ironisnya, setelah seseorang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi, memperoleh gelar akademik, bahkan menjadi tenaga pendidik, tidak sedikit yang justru mulai membangun tembok antara dirinya dan masyarakat. Kesibukan administrasi, target penelitian, kewajiban mengajar, serta berbagai tuntutan birokrasi perlahan-lahan membuat pendidikan kehilangan wajah kemanusiaannya.
Kita memang mengajar.
Namun, apakah kita sungguh-sungguh mendidik?
Kita menyampaikan materi.
Tetapi, apakah kita juga sedang menanamkan harapan?
Kita memenuhi beban kerja.
Namun, apakah kita juga memenuhi panggilan hati?
Di sinilah kegelisahan itu bermula.
Saya tidak sedang menyalahkan para guru maupun dosen. Sebaliknya, saya sangat menghormati setiap orang yang memilih jalan pendidikan sebagai ladang pengabdian. Akan tetapi, saya merasa ada sesuatu yang perlahan bergeser. Pendidikan mulai dipandang sebatas rutinitas profesional, bukan lagi gerakan moral untuk memanusiakan manusia.
Padahal, bangsa ini pernah melahirkan seorang tokoh besar yang meletakkan fondasi pendidikan bukan pada gedung, melainkan pada nilai. Ki Hadjar Dewantara pernah mengingatkan bahwa setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah. Kalimat itu bukan sekadar slogan yang indah dipasang di dinding sekolah. Ia adalah ajakan agar pendidikan tidak dibatasi oleh ruang kelas, jadwal pelajaran, ataupun kalender akademik.
Jika setiap tempat adalah sekolah, maka pelosok desa juga adalah ruang belajar.
Jika setiap orang adalah guru, maka setiap manusia memiliki tanggung jawab untuk menyalakan cahaya pengetahuan di mana pun ia berada.
Lalu mengapa kita sering kali merasa cukup hanya karena telah mengajar di ruang kelas yang nyaman?
Mengapa begitu sulit meluangkan satu atau dua hari untuk hadir di sekolah-sekolah yang bahkan kekurangan buku, papan tulis, ataupun guru?
Bukankah ilmu akan semakin bernilai ketika dibagikan kepada mereka yang paling membutuhkannya?
Pertanyaan-pertanyaan itu semakin kuat ketika saya mengunjungi sekolah-sekolah di daerah terpencil. Saya melihat anak-anak yang datang dengan seragam sederhana, berjalan jauh melewati jalan tanah, menyeberangi sungai, bahkan menembus hujan hanya demi sampai ke sekolah.
Mereka tidak pernah bertanya apakah guru mereka bergelar doktor.
Mereka hanya berharap ada seseorang yang datang dan berkata,
"Mari kita belajar bersama hari ini."
Harapan mereka sesederhana itu.
Namun, kesederhanaan itulah yang justru membuat hati terasa sesak.
Di kota-kota besar, kita sering memperdebatkan metode pembelajaran berbasis teknologi, kecerdasan buatan, hingga transformasi digital. Sementara itu, di sudut-sudut negeri yang jauh dari sorotan, masih ada sekolah yang berjuang mendapatkan buku bacaan, akses internet, bahkan ruang kelas yang layak.
Pendidikan di Indonesia memang telah berkembang.
Namun, perkembangan itu belum sepenuhnya merata.
Masih ada wajah-wajah kecil yang menunggu giliran untuk merasakan kesempatan yang sama.
Sayangnya, tidak semua orang memilih untuk melihat kenyataan tersebut.
Ada yang menutup mata agar tidak menyaksikan ketimpangan.
Ada yang menutup telinga agar tidak mendengar jeritan.
Bahkan ada yang memilih diam karena merasa persoalan itu bukan urusannya.
Padahal, diam terhadap ketidakadilan sering kali menjadi bentuk lain dari membiarkan ketidakadilan itu terus berlangsung.
Saya menyadari bahwa tidak semua orang memiliki waktu luang. Tidak semua guru dapat meninggalkan kewajiban mengajarnya. Tidak semua dosen bisa dengan mudah memindahkan jadwal perkuliahan. Ada aturan institusi yang harus dihormati dan tanggung jawab profesional yang harus dijalankan.
Namun, di antara berbagai keterbatasan itu, bukankah selalu ada ruang kecil untuk berbagi?
Barangkali bukan setiap minggu.
Barangkali bukan setiap bulan.
Tetapi setidaknya sekali dalam setahun.
Satu hari yang kita berikan mungkin menjadi kenangan seumur hidup bagi seorang anak di pelosok.
Satu buku yang kita bawa mungkin menjadi jendela pertama yang membuka dunia bagi mereka.
Satu pelukan yang kita berikan mungkin menjadi alasan seorang anak tetap bertahan mengejar cita-citanya.
Karena sesungguhnya kebermanfaatan tidak pernah diukur dari lamanya waktu, melainkan dari kedalaman makna yang ditinggalkannya.
Pengalaman mengikuti Sekolah Relawan mengubah cara pandang saya terhadap pendidikan. Di sana saya bertemu dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda: dosen, guru, kepala desa, mahasiswa, pengusaha, dan berbagai profesi lainnya. Mereka datang bukan karena diwajibkan, melainkan karena dipanggil oleh nurani.
Tidak ada yang bertanya berapa honor yang akan diterima.
Tidak ada yang menghitung keuntungan pribadi.
Yang ada hanyalah semangat untuk berbagi.
Saya belajar bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung ketika seseorang berdiri di depan papan tulis. Pendidikan juga hadir ketika seseorang mendengarkan keluh kesah seorang guru di pelosok, ketika membantu memperbaiki perpustakaan sederhana, ketika bermain dan membaca bersama anak-anak, atau ketika memberi keyakinan kepada mereka bahwa mimpi tidak mengenal batas geografis.
Di sanalah saya memahami bahwa makna guru jauh lebih luas daripada sekadar profesi.
Guru adalah siapa pun yang membuat orang lain menjadi lebih baik.
Barangkali karena itulah kata-kata W. S. Rendra terus terngiang di kepala saya: hidup itu seperti uap. Ia hadir sebentar, lalu menghilang.
Jika hidup memang sesingkat embun yang menguap ketika matahari terbit, lalu apa yang akan kita tinggalkan?
Apakah hanya daftar riwayat hidup?
Ataukah jejak-jejak manfaat yang tetap dikenang setelah nama kita tak lagi disebut?
Saya mulai percaya bahwa ukuran keberhasilan seseorang bukanlah sebanyak apa gelar yang dimiliki, melainkan sebanyak apa kehidupan orang lain yang berubah karena kehadirannya.
Sebab ilmu yang tidak dibagikan hanyalah tumpukan pengetahuan.
Sedangkan ilmu yang menjadi manfaat akan menjelma menjadi cahaya.
Perjalanan tiga hari dua malam itu mengajarkan bahwa pendidikan sejatinya bukan tentang siapa yang paling pintar, melainkan siapa yang paling peduli.
Saya pulang dengan tubuh yang lelah, tetapi hati yang jauh lebih hidup.
Saya membawa pulang bukan hanya foto-foto kegiatan, melainkan juga wajah-wajah anak yang masih menyimpan harapan.
Saya membawa pulang bukan sekadar kenangan, melainkan tanggung jawab moral.
Bahwa setiap kali saya mengaku mencintai pendidikan, maka cinta itu harus dibuktikan melalui tindakan.
Karena pendidikan tidak membutuhkan lebih banyak pidato.
Pendidikan membutuhkan lebih banyak kehadiran.
Negeri ini tidak kekurangan orang cerdas.
Yang masih kita cari adalah lebih banyak manusia yang bersedia berbagi kecerdasannya.
Semoga semakin banyak akademisi yang tidak hanya sibuk mengejar publikasi, tetapi juga menyempatkan diri menyapa sekolah-sekolah yang terlupakan.
Semoga semakin banyak guru yang tidak sekadar menyelesaikan kurikulum, tetapi juga menumbuhkan harapan.
Semoga semakin banyak mahasiswa yang memahami bahwa pengabdian bukan hanya syarat kelulusan, melainkan bagian dari perjalanan menjadi manusia.
Dan semoga kita semua tidak lupa bahwa sebelum menjadi apapun dokter, dosen, guru, pengusaha, pejabat, atau pemimpin kita pernah menjadi seorang murid yang dibimbing dengan kesabaran oleh seseorang yang percaya pada masa depan kita.
Kini giliran kita membalas kepercayaan itu.
Mungkin bukan dengan cara yang besar.
Mungkin bukan dengan kemampuan yang sempurna.
Namun, dengan langkah kecil yang dilakukan secara tulus.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak selalu mengingat siapa yang paling kaya, siapa yang paling bergelar, atau siapa yang paling terkenal.
Sejarah lebih sering mengingat mereka yang memilih hadir ketika banyak orang memilih pergi.
Dan bagi saya, perjalanan itu telah mengajarkan satu kalimat yang akan terus saya bawa sepanjang hidup:
Pendidikan yang paling tinggi bukanlah ketika seseorang berhasil meraih gelar, melainkan ketika ia menjadikan ilmunya sebagai jalan untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.
Tiga hari dua malam memang telah usai.
Namun, nilai yang ditanamkan selama perjalanan itu akan terus hidup.
Author: Muh. Arif
