Woitombo dan Ingatan Lamaku


‎“Aku tidak datang ke Woitombo untuk mencari masa kecil. Aku datang untuk menghadiri Kemah Rakyat. Tetapi barangkali ingatan tidak pernah benar-benar menunggu kita untuk mencarinya. Ia bisa datang sendiri ketika menemukan sesuatu yang menyerupai rumahnya.”

Keadaan kembali membawaku ke Woitombo, sebuah desa yang pertama kali kupijak setahun lalu ketika menghadiri kegiatan Kemah Rakyat. Waktu itu aku datang sebagai seseorang yang hanya ingin menghadiri sebuah kegiatan. Tidak banyak yang kupikirkan tentang desa itu selain bagaimana suasana kegiatan berlangsung, bagaimana orang-orang berkumpul, dan bagaimana anak-anak berlarian di antara tenda-tenda yang berdiri.

‎Namun, setahun kemudian, keadaan kembali membawaku ke tempat yang sama.

‎Tahun 2026, Kemah Rakyat kembali digelar. Berbagai komunitas kembali berdatangan. Anak-anak muda, pegiat literasi, mahasiswa, dan masyarakat berkumpul dalam satu ruang yang memiliki daya tarik tersendiri. Ada semacam perasaan bahwa Woitombo bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan, melainkan perlahan tumbuh menjadi ruang perjumpaan.

‎Dan tahun ini, ketika kembali menginjakkan kaki di sana, aku menemukan sesuatu yang berbeda.

‎Nampaknya banyak perubahan telah terjadi di Woitombo.

‎Perpustakaan desanya yang bernama Woipedia kini semakin menakjubkan. Bangunan dan ruang yang sebelumnya mungkin hanya menjadi tempat menyimpan buku kini terasa lebih hidup. Di sisinya telah hadir kolam renang. Anak-anak memiliki ruang untuk bermain, sementara perpustakaan menjadi bagian dari sebuah lingkungan yang tidak lagi sekadar berbicara tentang buku.

‎Tetapi dari semua perubahan itu, ada satu hal yang paling menarik perhatianku.

‎Hamparan karpet rerumputan elastis terbentang di sekitar perpustakaan. Ia menyerupai taman literasi yang ada di Lasusua. Rerumputan itu bukan sekadar pelengkap halaman. Di atasnya anak-anak Woitombo bermain, berlari, bercanda, dan menghidupkan warna-warni masa kecil mereka.

‎Aku melihat mereka dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

‎Ada sesuatu dari cara anak-anak itu bermain yang membuatku seperti sedang melihat masa kecilku sendiri. Mungkin karena masa kecil memang memiliki bahasa yang sama di mana pun ia tumbuh. Anak-anak tidak membutuhkan banyak alasan untuk tertawa. Mereka tidak perlu memahami dunia terlebih dahulu untuk merasa bahagia. Sebuah rerumputan sudah cukup menjadi lapangan bermain. Sebuah batu bisa menjadi mainan. Sebuah kolam bisa menjadi dunia petualangan.

‎Sedangkan kita yang telah dewasa sering kali membutuhkan banyak hal hanya untuk merasa baik-baik saja.

‎Kala duduk di rerumputan itu, aku tanpa sengaja membaringkan tubuh. Pandanganku kemudian tertuju ke atas cakrawala malam.

‎Di sana, kulihat ribuan bintang dan satu bulan.

‎Aku terdiam.

‎Entah mengapa pemandangan itu seperti membuka sebuah pintu yang selama ini tertutup dalam ingatanku. Bintang-bintang itu membawa pikiranku jauh ke belakang, ke masa ketika aku masih kecil dan tinggal di sebuah desa bernama Punnia, di Pinrang, Sulawesi Selatan.

‎Waktu kecil, aku sangat gemar memandangi bintang.

‎Di langit desa masa kecilku, hampir setiap malam terdapat ribuan, bahkan mungkin jutaan bintang. Aku tidak pernah tahu jumlah sebenarnya. Bagiku, semakin banyak bintang yang terlihat, semakin indah langit itu.

‎Langit malam di desa memiliki semacam keajaiban yang sulit ditemukan sekarang. Ia gelap, tetapi tidak menakutkan. Justru dari kegelapan itu bintang-bintang menjadi lebih terang. Aku bisa duduk lama hanya untuk memandanginya. Tidak ada yang harus kucari. Tidak ada yang harus kukerjakan. Tidak ada layar telepon yang harus kutatap.

‎Hanya aku dan langit.

‎Begitupun dengan bulan.

‎Terkadang kupandangi bulan sembari berjalan. Dalam imajinasi masa kecilku, bulan seolah-olah mengikuti ke mana pun aku pergi. Ketika aku berjalan ke depan, ia ikut bergerak. Ketika aku berbelok, ia tetap berada di sana.

‎Aku tentu belum memahami hukum-hukum alam yang menjelaskan mengapa bulan tampak seperti mengikuti seseorang. Yang kutahu waktu itu hanya satu: bulan adalah teman perjalanan.

‎Masa kecil memang sering menciptakan dunia dengan caranya sendiri.

‎Dunia yang bagi orang dewasa mungkin tidak masuk akal, tetapi bagi seorang anak justru terasa begitu nyata.

‎Barangkali begitulah masa kecil bekerja. Ia menyimpan banyak hal yang kelak kita lupakan, lalu pada suatu hari mengembalikannya secara tiba-tiba melalui sesuatu yang sederhana.

‎Sebuah bau.

‎Sebuah lagu.

‎Sebuah jalan.

‎Atau bahkan sebuah langit.

‎Setelah pindah dari Punnia, fenomena semacam itu sudah jarang kurasakan. Langit di tempat tinggalku di Lasusua tidak lagi memiliki keramaian bintang seperti yang dulu kulihat di desa masa kecilku.

‎Aku sering bertanya-tanya, apa yang sebenarnya berubah?

‎Apakah langit yang berubah?

‎Ataukah aku yang berubah?

‎Mungkin polusi akibat aktivitas pertambangan membuat langit tidak lagi sebersih dahulu. Mungkin cahaya kota semakin banyak sehingga bintang-bintang kecil kehilangan kesempatan untuk memperlihatkan dirinya. Atau mungkin hanya diriku yang semakin jarang menengadah ke atas.

‎Sebab barangkali langit tidak pernah benar-benar berubah.

‎Kitalah yang terlalu sibuk melihat ke bawah.

‎Semakin dewasa, semakin sering kita berjalan sambil menundukkan kepala. Kita melihat jalan, melihat pekerjaan, melihat pesan yang masuk melalui telepon genggam, melihat angka-angka, melihat persoalan hidup yang tidak pernah selesai.

‎Kita lupa bahwa dahulu ada waktu ketika kita bisa berbaring hanya untuk melihat bintang.

‎Kita lupa bahwa pernah ada masa ketika bulan dapat membuat kita bahagia.

‎Kita lupa bahwa langit pernah menjadi salah satu tempat pertama tempat kita belajar tentang keheningan.

‎Dan malam itu, Woitombo mengingatkanku pada semua itu.

‎Aku tidak datang ke Woitombo untuk mencari masa kecil. Aku datang untuk menghadiri Kemah Rakyat. Tetapi barangkali ingatan tidak pernah benar-benar menunggu kita untuk mencarinya. Ia bisa datang sendiri ketika menemukan sesuatu yang menyerupai rumahnya.

‎Rerumputan itu menjadi semacam pintu.

‎Bintang-bintang menjadi kuncinya.

‎Dan masa kecil muncul kembali dari tempat yang selama ini tidak kusadari masih menyimpannya.

‎Aku kemudian melihat anak-anak Woitombo yang masih bermain. Mereka berlari di atas rerumputan, tertawa tanpa memikirkan hari esok. Melihat mereka, aku kembali bertanya-tanya tentang kehidupan.

‎Mengapa manusia ketika kecil begitu mudah menemukan kebahagiaan, sementara setelah dewasa kita justru sibuk mencarinya?

‎Barangkali karena anak-anak belum terlalu mengenal kehilangan.

‎Mereka belum terlalu mengenal tuntutan hidup.

‎Mereka belum terlalu akrab dengan kegagalan.

‎Dunia mereka masih sederhana. Tetapi justru karena kesederhanaan itulah dunia mereka terasa luas.

‎Sementara kita, orang-orang dewasa, memiliki dunia yang semakin besar tetapi hati yang kadang semakin sempit.

‎Kita memiliki lebih banyak pengetahuan, tetapi kehilangan banyak rasa ingin tahu.

‎Kita memiliki lebih banyak alat untuk berkomunikasi, tetapi semakin sering merasa kesepian.

‎Kita memiliki kemampuan untuk pergi ke berbagai tempat, tetapi sering lupa bagaimana caranya pulang kepada diri sendiri.

‎Mungkin itulah sebabnya perjalanan sesungguhnya tidak selalu berarti berpindah tempat.

‎Kadang-kadang perjalanan adalah ketika sesuatu di luar diri kita membawa kita kembali kepada sesuatu yang telah lama hilang di dalam diri.

‎Woitombo malam itu menjadi perjalanan semacam itu bagiku.

‎Aku kembali ke sebuah desa, tetapi yang kutemukan justru masa lalu.

‎Aku datang untuk bertemu banyak orang, tetapi justru bertemu dengan diriku sendiri.

‎Aku duduk di atas rerumputan, tetapi pikiranku berjalan begitu jauh.

‎Ia berjalan menuju Punnia.

‎Menuju jalan-jalan kecil masa kanak-kanak.

‎Menuju langit yang dahulu begitu ramai oleh bintang.

‎Menuju seorang anak kecil yang percaya bahwa bulan selalu mengikutinya.

‎Anak kecil itu mungkin sudah lama hilang. Ia tumbuh bersama waktu. Ia melewati banyak tempat, bertemu banyak orang, mengalami banyak hal, dan perlahan belajar bahwa kehidupan tidak selalu semudah yang ia bayangkan.

‎Tetapi malam itu, untuk beberapa saat, anak kecil itu seperti kembali.

‎Ia kembali melalui bintang.

‎Melalui bulan.

‎Melalui rerumputan.

‎Melalui Woitombo.

‎Dan aku menyadari bahwa mungkin manusia tidak pernah benar-benar meninggalkan masa lalunya. Kita hanya berjalan semakin jauh darinya. Namun sesekali, kehidupan memberikan kesempatan untuk menoleh.

‎Bukan untuk tinggal di masa lalu.

‎Melainkan untuk mengingat bahwa kita pernah menjadi seseorang yang begitu sederhana dalam memandang dunia.

‎Mungkin ingatan bukanlah sesuatu yang harus kita tinggalkan. Ia adalah bagian dari perjalanan yang membuat kita menjadi diri kita sekarang.

‎Desa masa kecil, jalan yang pernah kita lalui, rumah yang pernah kita tinggali, orang-orang yang pernah kita temui, bahkan langit yang pernah kita pandangi, semuanya seperti potongan kecil yang membentuk diri kita.

‎Dan ketika potongan-potongan itu kembali muncul, kita seperti sedang membaca kembali sebuah buku lama yang ternyata belum pernah benar-benar selesai kita baca.

‎Woitombo mungkin akan terus berubah.

‎Perpustakaannya mungkin akan semakin bagus. Taman literasinya mungkin akan semakin ramai. Anak-anak yang hari ini berlarian di atas rerumputan itu kelak akan tumbuh dewasa. Mereka mungkin akan meninggalkan Woitombo untuk mencari kehidupan di tempat lain.

‎Tetapi aku berharap, suatu hari nanti, ketika mereka kembali, masih ada sesuatu yang dapat mengingatkan mereka pada masa kecil.

‎Mungkin perpustakaan.

‎Mungkin rerumputan.

‎Mungkin sebuah pohon.

‎Atau mungkin langit malam yang masih menyisakan beberapa bintang.

‎Sebab desa bukan hanya tentang bangunan dan jalan. Desa juga tentang ingatan manusia yang tumbuh di dalamnya.

‎Dan barangkali pembangunan yang paling penting bukan hanya bagaimana membuat sebuah desa menjadi lebih maju, tetapi bagaimana memastikan bahwa di tengah perubahan itu masih ada ruang bagi manusia untuk mengingat, bermain, membaca, bertemu, dan memandang langit.

‎Malam semakin larut ketika aku akhirnya beranjak dari rerumputan.

‎Aku kembali kepada keramaian Kemah Rakyat. Orang-orang masih berbincang. Beberapa anak masih bermain. Suara-suara masih terdengar dari berbagai arah.

‎Namun pikiranku masih tertinggal di atas sana.

‎Pada bintang-bintang.

‎Aku menatapnya sekali lagi sebelum pergi.

‎Barangkali jumlahnya tidak sebanyak bintang yang dahulu kulihat di Punnia. Barangkali langit itu sudah tidak seramai masa kecilku. Tetapi malam itu aku tidak lagi terlalu mempersoalkannya.

‎Sebab aku akhirnya mengerti, mungkin yang selama ini hilang bukanlah bintang-bintang.

‎Mungkin yang hilang adalah kebiasaan untuk memandanginya.

‎Aku pun berjalan meninggalkan rerumputan itu dengan perasaan yang sedikit berbeda.

‎Woitombo memberiku sesuatu yang tidak kurencanakan.

‎Ia mengembalikan ingatan lamaku.

‎Dan untuk sesaat, di bawah langit yang dipenuhi bintang, aku kembali menjadi seorang anak kecil yang berjalan di sebuah desa, menatap bulan, lalu percaya bahwa ke mana pun aku pergi, ia akan selalu mengikutiku.

‎Barangkali manusia memang perlu sesekali kembali.

‎Bukan selalu untuk menemukan tempat yang sama.

‎Tetapi untuk menemukan kembali bagian dari dirinya yang pernah tertinggal di sana.

Lebih baru Lebih lama