Maya bukan sekadar dunia khayal.
Ia perempuan yang jauh di sana,
yang namanya diam-diam tinggal di kepalaku lebih lama dari siapa pun.
Aneh memang.
Tubuhku hanya duduk diam, tak membuat gaduh, tak mencari masalah.
Tapi entah bagaimana, di matanya aku selalu tampak salah.
Kadang aku ingin bertanya,
“Kesalahan apa yang sebenarnya sedang kau marahi?”
Sebab aku bahkan belum sempat menjelaskan diriku sendiri.
Maya sering kesal.
Kata-katanya pendek, nadanya dingin, dan jaraknya terasa makin jauh.
Sedangkan aku cuma seseorang yang sibuk menebak-nebak isi kepalanya sendiri.
Mungkin beginilah rasanya menyukai seseorang dari kejauhan:
kita tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang ia pikirkan.
Yang sampai hanya diam, prasangka, lalu salah paham yang tumbuh perlahan.
Dan realita yang paling berantakan adalah ini:
aku tetap memikirkannya,
meski di kepalanya, mungkin aku hanyalah tokoh yang selalu gagal menjadi benar.
