Kolaka Utara dan Hujannya

Kolaka Utara pagi itu cerah sekali sampai banyak orang percaya diri jemur pakaian full satu rumah. Celana, baju, handuk, bahkan karpet ikut dijemur karena merasa matahari sedang niat bekerja.

Perjalanan melewati Gunung Tamborasi masih aman. Langit biru, angin tenang, motor lewat santai tanpa jas hujan. Semua terlihat damai.

Tiba-tiba awan datang.

Bukan pelan-pelan lagi, tapi model awan yang datang seperti punya dendam pribadi dengan jemuran masyarakat.

Orang-orang langsung keluar rumah dengan gaya lari yang tidak pernah muncul saat olahraga pagi. Yang penting pakaian selamat dulu.

Setelah semua jemuran berhasil diamankan dan rumah sudah penuh gantungan dadakan, hujan malah berhenti.

Matahari muncul lagi dengan santainya seperti tidak merasa bersalah sedikit pun.

Beberapa orang akhirnya pasrah. Jemuran keluar masuk rumah sampai mungkin bajunya sendiri bingung sebenarnya lagi dijemur atau diajak jalan-jalan.

Warung kopi pinggir jalan juga langsung ramai. Ada yang awalnya cuma mau beli cemilan, akhirnya duduk satu jam karena hujan turun lagi tepat saat mau pulang.

Percakapan paling terkenal hari itu tetap sama:

“Kayaknya hujan.”

“Ah tidakji itu.”

Lima menit kemudian semua orang lari cari tempat teduh sambil ketawa sendiri.

Kolaka Utara memang begitu. Cuacanya kadang lebih sulit ditebak daripada isi chat “otw” yang sebenarnya masih di rumah.

Minggu, 24 Mei 2026.

Author: Haldi Alfaisal
Lebih baru Lebih lama