Minggu, menjelang Lebaran 2026.
Desa Kamisi saat ini terlihat biasa saja.
Langit cerah, angin tenang, burung berkicau seperti sedang gladi bersih menyambut takbiran.
Semua tampak damai.
Sampai satu kabar beredar dari mulut ke mulut:
"Daun pisang mulai susah dicari."
Seisi kampung langsung berubah mode.
Yang tadinya santai di teras, mendadak berdiri seperti dapat panggilan negara.
Yang sedang ngopi langsung menaruh gelas setengah isi.
Yang baru bangun dari tidur siangnya pun mendadak panik.
Sebab semua tahu,
kalau Lebaran sudah dekat, daun pisang bukan lagi sekadar daun.
Dia berubah status.
Dari penghias kebun menjadi benda rebutan penuh kehormatan.
Motor-motor mulai keluar rumah.
Bukan untuk jalan-jalan, tapi patroli daun pisang.
Ada yang menyusuri kebun belakang,
ada yang pura-pura silaturahmi ke rumah tetangga sambil melirik halaman samping.
Kalimat yang paling sering terdengar sekarang sederhana:
"Masih ada daun pisang ta?"
Dan jawaban paling menegangkan adalah:
"Barusan habis dipotong orang."
Wajah langsung berubah sendu,
seperti dengar kabar THR ditunda.
Beberapa orang akhirnya rela masuk kebun sendiri.
Melawan semak, nyamuk, dan rasa takut bertemu ular,
demi satu tujuan mulia:
membungkus burasa dan tumbunya dengan layak.
Setelah daun berhasil didapat,
rasanya seperti menang undian.
Pulang dengan senyum bangga,
daun pisang dipikul seperti piala kemenangan.
Tetangga yang melihat cuma bisa bertanya pelan:
"Dapat di mana?"
Dan dijawab singkat penuh misteri:
"Ada ji tempatku."
Padahal lokasi aslinya dirahasiakan seperti titik harta karun.
Begitulah Desa Kamisi menjelang Lebaran.
Kadang yang bikin panik bukan harga bahan pokok,
tapi daun pisang yang mendadak naik kasta jadi barang mewah.
Author: Yusni
