Aku tidak pernah membayangkan akan duduk di bangku kuliah di usia yang orang lain anggap “terlambat."
Ketika teman-teman sebayaku sudah wisuda, memamerkan toga di media sosial, mengumumkan pekerjaan pertama mereka aku masih di sini. Masih berjuang. Masih mencari jalan.
Ada satu malam yang tidak akan pernah kulupakan.Malam itu aku duduk sendiri di kamar. Lampu redup berkedip pelan. Angin malam menyapu wajahku lewat ventilasi kamar yang sempit.
Di tanganku tergenggam ponsel, terlihat informasi tentang penerimaan kuliah yang berlalu lalang di feed Instagramku, sesuatu yang bertahun-tahun kuimpikan. Tapi anehnya, aku tidak merasa bahagia. Yang kurasa hanya satu: malu.
Malu karena terlambat. Malu karena harus duduk satu kelas dengan adik-adik yang usianya jauh di bawahku. Malu karena pertanyaan yang selalu datang saat lebaran, saat kumpul bareng teman, saat pertemuan keluarga “Kamu kuliah di mana? Kerja apa sekarang?”Dan aku selalu menjawab dengan senyum tipis yang menyimpan luka.
Ketika Hidup Tidak Berjalan Sesuai Rencana
Bertahun-tahun sebelum itu, hidupku tidak berjalan sesuai rencana.
Setelah lulus SMA, keluargaku sedang dalam titik paling rapuh. Bapak dengan usianya yang semakin tua. Penghasilan keluarga jauh dari cukup. Kuliah adalah kemewahan yang tidak bisa kami beli saat itu. Jadi aku bekerja apa saja. Jadi honorer di sebuah kantor dinas, dan pelayan warung makan. Aku tidak mengeluh karena memang tidak ada waktu untuk mengeluh.
Tapi jauh di dalam dada, ada sesuatu yang selalu membisikkan hal yang sama setiap malam.
“Kamu masih punya mimpi. Jangan biarkan dia mati.”
Suara-Suara yang Meragukan
Tahun berganti tahun. Aku menabung sedikit demi sedikit. Bukan menabung untuk liburan atau beli gadget baru aku menabung untuk sebuah kesempatan. Kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali.
Dan ketika akhirnya aku mendaftar kuliah, ada suara-suara yang datang dari luar maupun dari dalam diriku sendiri.
“Sudah tua, ngapain kuliah?” “Nanti lulus umur berapa?” “Percuma, dunia kerja lebih butuh pengalaman."
Suara-suara itu keras. Kadang lebih keras dari semangatku sendiri.
Ada satu sore aku ingat betul ketika aku hampir benar-benar menyerah. Aku sudah mengetik pesan pengunduran diri dari kampus.
Jari-jariku sudah di atas tombol kirim. Rasanya seperti berdiri di tepi jurang, dan menyerah terasa lebih mudah daripada melanjutkan.
Tapi aku tidak jadi mengirimnya.
Bukan karena aku tiba-tiba menjadi kuat. Bukan karena ada motivasi luar biasa yang datang dari langit.
Tapi karena aku teringat wajah bapakku yang waktu itu perekonomian sudah mulai membaik yang pernah berkata pelan suatu malam:
“Bapak tidak bisa kasih kamu banyak. Tapi belajarlah. Itu satu hal yang tidak bisa diambil siapapun darimu.”
Aku tutup kembali pesan itu. Dan aku kembali membuka buku.
Hari-Hari yang Tidak Mudah
Hari-hari kuliah tidak mudah.
Tugas menumpuk. Biaya hidup tidak pernah benar-benar cukup. Aku harus kuliah sambil tetap bekerja paruh waktu. Pagi kuliah, sore kerja, malam belajar. Tidur adalah kemewahan yang kujatah seadanya.
Tapi ada hal yang tidak kusangka terjadi.
Justru karena aku pernah hidup di luar sana bekerja keras, merasakan sulitnya mencari uang, belajar dari kehidupan nyata aku punya sesuatu yang tidak dimiliki banyak teman sekelasku: aku tahu untuk apa aku belajar.
Bukan untuk nilai. Bukan untuk sekadar lulus. Tapi karena aku pernah merasakan dunia tanpa ilmu itu seperti apa. Dan aku tidak mau kembali ke sana.
Pelajaran yang Tidak Ternilai
Sekarang, ketika aku menulis ini, aku masih dalam perjalanan.
Belum selesai. Belum di ujung. Masih ada banyak mata kuliah yang harus kutempuh, banyak malam panjang yang harus dilewati, banyak keraguan yang harus kulawan satu per satu.
Tapi aku tidak lagi malu dengan jalanku.
Karena aku akhirnya mengerti satu hal yang dulu tidak kupahami:
Tidak ada yang namanya terlambat — selama kamu belum berhenti.
Jam tidak pernah peduli siapa yang berlari lebih dulu. Yang penting adalah siapa yang tetap berlari ketika yang lain sudah menyerah.
Jalanku memang tidak lurus. Ada belokan, ada jalan buntu, ada lubang yang membuatku tersandung berkali-kali.
Tapi setiap langkah itu setiap air mata, setiap kerja keras, setiap malam yang kuhabiskan sendiri dengan buku dan harapan semuanya membentukku menjadi seseorang yang tidak akan pernah menganggap remeh sebuah kesempatan.
Jadi jika hari ini kamu sedang merasa terlambat dalam belajar, dalam berkarir, dalam meraih mimpi yang sudah lama kamu simpan.
Aku ingin kamu tahu satu hal.
Kamu tidak terlambat. Kamu hanya sedang berjalan di jalanmu sendiri. Dan jalan itu, sekalipun lebih panjang dan lebih terjal dari yang lain, tetap akan membawamu tiba.
Sebelum tiba, memang harus melewati yang tidak mudah. Dan itu bukan kelemahan itu bukti bahwa kamu sudah berani memulai.
Teruslah berjalan. Sebab tiba itu pasti, bagi mereka yang tidak berhenti.
Author: Arma Septiani
