Dulu, aku juga pernah berada di titik ketika melihat teman-teman mulai masuk kuliah sementara aku harus memilih jalan yang berbeda.
Setelah lulus sekolah, aku tidak langsung melanjutkan pendidikan. Bukan karena tidak ingin, tetapi keadaan membuatku harus bekerja lebih dulu.
Saat teman-temanku sibuk dengan tugas kampus dan kehidupan mahasiswa, aku justru belajar menghadapi dunia kerja. Bangun pagi, lelah bekerja, dan mencoba bertahan dengan keadaan.
Kadang ada rasa iri ketika melihat mereka memakai almamater kampus, sedangkan aku masih sibuk memikirkan bagaimana membantu kebutuhan keluarga dan masa depanku sendiri.
Tidak jarang aku bertanya dalam hati, “Apakah aku masih punya kesempatan untuk kuliah?”
Ada masa ketika aku hampir menyerah pada mimpi itu. Aku mulai berpikir mungkin kuliah bukan lagi bagian dari jalanku. Usia bertambah, waktu berjalan, dan rasa takut tertinggal dari orang lain semakin besar.
Namun, dari pekerjaan itulah aku belajar banyak hal. Aku belajar tentang tanggung jawab, menghargai uang, menghadapi orang-orang dengan berbagai karakter, dan memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Sampai akhirnya aku sadar, tidak semua orang harus memulai dari garis yang sama. Ada yang langsung kuliah setelah lulus sekolah, ada juga yang harus berjuang lebih dulu sebelum sampai ke sana.
Dan hari ketika aku akhirnya memutuskan untuk berkuliah, rasanya bukan sekadar tentang masuk kampus. Itu adalah bukti bahwa aku tidak benar-benar menyerah pada mimpi yang pernah aku simpan.
Kini aku mengerti, terlambat bukan berarti gagal. Karena setiap orang punya waktunya masing-masing untuk sampai pada tujuan hidupnya.
Author: Putri Rasti
