Ikmal datang ke Desa Tinuna bukan untuk liburan, melainkan untuk menjadi relawan “Jariku”.
Perjalanan panjang yang melelahkan terbayar saat ia melihat hamparan hijau perbukitan dan rumah-rumah sederhana yang berdiri tenang di desa itu.
Namun ada satu hal yang langsung ia sadari sejak hari pertama—tidak ada jaringan internet.
Awalnya Ikmal merasa canggung. Ponselnya hanya menjadi benda mati di saku celana. Tidak ada media sosial, tidak ada pesan yang masuk, dan tidak ada hiburan malam selain suara jangkrik dan obrolan warga desa serta tim relawan.
Tetapi perlahan, suasana itu justru membuatnya merasa hidup.
Selama tiga hari di Tinuna, Ikmal mengajar anak-anak bersama tim relawan Jariku. Ia membantu mereka membaca, menulis, dan bermain sambil belajar di sebuah sekolah yang penuh tawa. Anak-anak di sana terlihat begitu antusias meski fasilitas yang mereka miliki sangat sederhana.
Dari mereka, Ikmal belajar bahwa semangat tidak selalu membutuhkan kemewahan.
Malam hari menjadi bagian yang paling ia sukai. Setelah kegiatan selesai, ia duduk di depan ruangan kelas sambil menatap langit yang penuh bintang.
Tidak ada suara notifikasi yang mengganggu, hanya cerita-cerita sederhana tentang kehidupan desa yang membuat hatinya terasa tenang.
Saat jaringan akhirnya kembali muncul di ponselnya, Ikmal justru tidak buru-buru membukanya. Ia tersenyum kecil dan menyadari bahwa kadang-kadang, kehilangan koneksi dengan dunia maya justru membuat seseorang kembali terhubung dengan dirinya sendiri.
Tiga hari tanpa internet ternyata bukan hal buruk bagi Ikmal. Desa Tinuna mengajarkannya bahwa kadang manusia terlalu sibuk mencari koneksi di dunia maya, sampai lupa membangun koneksi dengan manusia di sekitarnya.
Dan sebagai relawan Jariku, Ikmal pulang bukan hanya membawa pengalaman, tetapi juga pelajaran tentang arti hadir sepenuhnya untuk orang lain.
Author: Muh. Ikmal
(Relawan Literasi TRH)
